Site Loader


Masih hangat berita yang baru-baru ini tentang Lippo Group yang mengaku melepas 70% saham OVO. Hal ini dikabarkan karena perusahaan pembayaran digital OVO masih menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya. Prinsip keuangan gaya start up seperti itu tidak cocok dengan logika keuangan yang digunakan perusahaan mapan seperti Lippo Group.

Berbicara tentang pembayaran digital, ada beberapa penelitian terkait dengan perilaku konsumen yang menyatakan kalau penggunaan pembayaran digital akan membuat kita lebih boros. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Penggunaan pembayaran digital dinilai memudahkan kita dalam transaksi pembelian dan cenderung mengurangi kesadaran kita dalam mengeluarkan uang.

Kemudahan transaksi dengan pembayaran digital memang membuat proses transaksi lebih mulus, hanya melewati proses click dan tap. Kemudahan tersebut yang mempengaruhi psikologi konsumen untuk semakin tergoda dalam membelanjakan uang yang mereka miliki.Efek seperti itu sesuai dengan tujuan awal pembuatan aplikasi pembayaran digital, yaitu efek terus-terusan membelanjakan uangnya.

Dalam hasil riset yang dituliskan dalam artikel “Why Going Cashless Makes You Spend More” yang dirilis dalam singsaver.com.sg mengatakan bahwa saat mengeluarkan uang fisik, rasa bersalah yang timbul pada seseorang lebih besar dibandingkan saat mengeluarkan uang secara digital. Keterikatan secara emosional lebih tinggi pada uang fisik dibandingkan dengan uang digital. Dalam penelitian tersebut bahkan menyarankan untuk tidak menggunakan dompet digital.

Penggunaan dompet digital memberikan efek kemudahan dalam melakukan transaksi pembayaran, tapi di lain sisi juga membuat seseorang lebih mudah mengeluarkan uangnya. Riset menunjukkan adanya rasa bersalah saat membelanjakan uang dari dompet ketika melakukan transaksi pembelian. Rasa bersalah tersebut disebabkan oleh ikatan emosional yang lebih kuat kepada uang fisik yang bentuknya lebih nyata.

Sedangkan saat menggunakan dompet digital pada transaksi pembayaran, rasa bersalah tersebut terasa lebih sedikit. Rasa bersalah yang sedikit disebabkan oleh ikatan emosional yang lemah karena uangnya terasa tidak nyata dan tidak ada sensasi fisik. Karena hal itu, aspek yang membuat kita lebih boros adalah kemudahan pemakaian dompet digital.

Salah satu cara untuk melawan kebiasaan buruk pemborosan dari aspek ini adalah menghindari kemudahan. Caranya bisa menggunakan prinsip kalau setiap melakukan transaksi pembayaran harus menggunakan uang fisik. Meskipun kebiasaan menggunakan uang fisik menyebabkan seseorang perlu sering ke instansi keuangan seperti bank untuk urusan transaksi.

Tapi dengan kebiasaan tersebut akan membuat seseorang jauh lebih hemat. Studi-studi terkait kebiasaan manusia menunjukka bahwa langkah ekstra dalam melakukan pembayaran dapat mendorong kita jauh lebih hemat. Langkah esktra yang ditiadakan oleh perangkat pembayaran digital membuat seseorang cenderung lebih boros.

Daripada melakukan belanja sesuatu yang keperluannya tidak terlalu penting, mending uang yang kita miliki dialokasikan kepada hal yang lebih produktif seperti instrumen-instrumen investasi. Investasi properti bisa menjadi pilihanmu untuk return yang besar dan risiko yang terukur.

Jangan takut dengan modal investasi properti yang besar, sekarang investasi properti dapat lebih mudah dijangkau dengan pesatnya perkembangan teknologi. Inovasi Keuangan Digital (IKD) yang dikembangkan oleh Startup Propertree.id menyederhanakan konsep investasi properti yang dapat dimulai dari angka Rp.500.000. Platform seperti ini sangat berguna untuk mencapai tujuan keuanganmu tahun depan. Karena dengan modal seperti itu, kamu akan mendapatkan return dari bagi hasil sebesar 8%-20% setiap tahunnya.

Jangan menunggu untuk memulai langkah pertamamu, pelajari di sini!

Photo by Clay Banks on Unsplash

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *