Site Loader

Keuangan dalam keluarga adalah salah satu hal yang sensitif. Masalah ini juga merupakan faktor utama penyebab perceraian. Keadaan perekonomian yang tidak sesuai dengan kondisi rumah tangga sering menyebabkan pertengkaran.

Titik masalahnya bukan berada pada kekurangan uang, tapi saat mengatur pengeluaran uangnya. Kebanyakan dari mereka tidak memperhatikan aspek transparansi dan keterbukaan antar anggota keluarga. Itu disebabkan karena perencanaan pernikahan tidak diikuti dengan perencanaan keuangan rumah tangga. Gagal fokus pada kebutuhan setelah pernikahan seperti anggaran untuk makan, untuk membeli rumah, dan kebutuhan lainnya merupakan kesalahan paling umum.

Banyaknya kebutuhan yang memerlukan biaya, menuntut para orang tua untuk lebih pandai untuk mengelola keuangan dengan baik. Ada beberapa cara untuk mengelola keuangan untuk kalian para keluarga baru agar lebih bersiap-siap menghadapi permasalahan-permasalahan keuangan.

1. Buat Rencana Biaya Keluarga

Tahap pertama untuk mengelola keuangan adalah dengan membuat rencana. Rencana keuangan dibuat dengan mempertimbangkan kondisi kebutuhan apa saja yang memerlukan biaya. Kebutuhan tersebut juga disesuaikan dengan kesanggupan pendapatan keluarga.

Pengeluaran yang paling umum bisa dibagi menjadi 3 aspek, yaitu kebutuhan rumah tangga sehari-hari, gaya hidup, serta kebutuhan jangka panjang dan pensiun. Formula yang paling umum digunakan untuk membagi kebutuhan tersebut yaitu 50:30:20.

Kebutuhan 50% anggaran untuk kebutuhan sehari-hari akan membiayai keperluan wajib seperti makan, transportasi, kebutuhan rumah, dan lainnya. Aspek ini membutuhkan persentase paling besar karena merupakan kebutuhan primer untuk menjalankan aktivitas rumah tangga.

Pada aspek biaya gaya hidup memerlukan alokasi dana sebesar 30%. Aspek ini memang tidak terlalu dibutuhkan, tapi gunanya untuk membuat aktivitas keluarga dan rumah tangga kita menjadi lebih hidup. Contoh kebutuhan gaya hidup seperti, kopi saat kerja, hadiah untuk keluarga, nonton bioskop, biaya olahraga, dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk tujuan jangka panjang, kita mengalokasikan 20% pendapatan keluarga. Tujuan jangka panjang yang dimaksud sperti dana darurat, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana untuk melunasi utang, dan lainnya.

2. Konsekuensi Transportasi

Kebutuhan transportasi di jaman sekarang menjadi hal yang wajib bagi tiap rumah tangga. Tapi banyak yang lalai dengan biaya lainnya setelah pembelian kendaraannya. Perencanaan biaya cicilan mobil kadang tidak diikuti dengan perencanaan biaya setelah pembelian, seperti biaya servis, biaya perbaikan, biaya bahan bakar, dan biaya pajak.

Jika kebutuhan transportasi masuk dalam kebutuhan sehari-hari yang alokasi dananya 50%, kebutuhan transportasi bisa dialokasikan sebesar 15% dari kebutuhan sehari-hari. Misalnya, pendapatan keluarga sebesar Rp 10.000.000, dengan alokasi dana untuk kebutuhan sehari-hari sebesar Rp 5.000.000. Dari perencanaan tersebut, untuk kebutuhan transportasi dapat dialokasikan sebesar Rp 750.000.

3. Kebutuhan Harian

Pengalokasian dana yang besar untuk keperluan harian tidak menjamin kebutuhan akan terpenuhi seluruhnya. Alokasi dana untuk makan di rumah dan makan di luar juga perlu direncanakan. Sebagai alternative pengeluaran, biaya belanja di supermarket bisa dialokasikan lebih besar agar pemenuhan makan di rumah lebih besar juga.

4. Dana Pensiun

Kebutuhan dana pensiun sering kali lalai direncanakan oleh tiap rumah tangga. Padahal ini sesuatu yang menjadi masalah di era sekarang, yaitu generasi sandwich. Generasi sandwich diartikan sebagai kondisi dimana orang tersebut selain memenuhi kebutuhan keluarganya, juga harus membiayai kebutuhan orang tuanya.

Nah salah satu penyebab orang-orang tidak siap dalam menghadapi masa pensiun adalah tidak adanya kesadaran saat di usia muda. Dalam melakukan perencanaan untuk dana pensiun, tentunya perlu menyiapkan berapa jumlah yang harus dikumpulkan. Misalnya, kita akan menjalani masa pensiun selama 25 tahun atau 300 bulan. Jika pengeluaran kita tiap bulannya sekitar Rp 5.000.000, 25 tahun ke depan akan meningkat nilanya karena inflasi sekitar Rp. 27.000.000. Jika dihitung, jumlah dana yang kita butuhkan sebanyak Rp. 27.000.000.000 x 300 bulan = Rp 8.100.000.000. Masih bisa terbayangkan akan dapat dari mana penghasilan sebesar itu?

Untuk mengumpulkan uang sebanyak 8 Miliar Rupiah, tidak cukup hanya menabung. Perlu melakukan investasi agar return yang didapatkan bisa maksimal, tentunya dengan investasi jangka panjang. Kenapa perlu mengambil produk investasi jangka panjang? Karena dengan durasi tersebut dapat memberikan return yang tinggi.

Berinvestasi dalam bisnis properti di Propertree.id menawarkan return pada investor hingga 20%. Dengan berinvestasi pada instrumen yang memberikan return sebesar 20% per tahun, hanya perlu menyisihkan uang sebanyak Rp 2.000.000 setiap bulan selama 25 tahun.

Dengan sadar akan pengelolaan keuangan, hal-hal buruk dalam rumah tangga akan berkurang. Bahkan akan lebih baik kalau dimulai sejak awal pernikahan.

Selamat merencanakan!!!

Post Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *